Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Gadis Penghitung Bintang

 Aku duduk di sampingnya sore itu. Seperti beberapa sore lainnya dengan tone warna yang satu sama lainnya tidak jauh berbeda, dengan cahaya hangat yang menyeruak muncul dari satu titik, cukup untuk membuat kontras dua sisi benda terlihat hidup. Cahaya bulan sepertiga purnama, lampu-lampu bohlam kuning 5 watt yang berjajar santun, ataupun cahaya mata dari kegirangannya menceritakan trivia aneh yang ia temukan hari itu. Sore itu, seperti biasa, kami membicarakan masalah yang entah apakah memang ada atau hanya dibuat-buat saja supaya ada alasan bagi kami (atau setidaknya aku) untuk keluar dan memesan segelas wedang jahe pasca gerimis ringan di pinggiran Malang. Aku tidak pernah berniat mengantisipasi keputusanku untuk tinggal di Malang beberapa waktu ke belakang ini akan membawaku kemana. Yang aku tahu, aku akan bersama orang ini melakukan hal yang sudah biasa kulakukan dua tahun sebelumnya. Toh aku nganggur, jadi kenapa engga? kopartnership dengan mbak-mbak yang dulu satu kepanitiaan...

Postingan Terbaru

Bekerja

A Social Smoker

Meromantisasi Kopi, Batanghari dan Jambi (1)

Percakapan di malam tanggung